Welcome to My Blog.. Whoever are you.. You're so special.. Because everyone is no. 1.. So don't forget to smile today ^__^ Jiayou.. ^^V
RSS
Showing posts with label Tale. Show all posts
Showing posts with label Tale. Show all posts

31.8.10

Pintu Surga

Seorang petani bersama dengan kuda serta anjingnya sedang menempuh perjalanan. Mendadak saja mereka semuanya meninggal tersambar sebuah halilintar. Namun seperti kebanyakan roh-roh yang baru meninggal, mereka pun tidak menyadari kalau sudah meninggal, masih tetap melanjutkan perjalanan mereka.

Jalanan yang mereka tempuh semakin lama semakin panjang, teriknya sinar matahari telah membuat mereka bermandikan keringat. Ketika mereka merasakan kehausan yang luar biasa, petani tersebut melihat sebuah pintu besar yang amat megah, pintu ini tembus ke sebuah lapangan yang berkilauan cahaya emas, di tengah-tengah lapangan terdapat pancuran air yang bersih dan jernih, dia segera menghampiri pintu itu, menyapa si penjaga pintu, "Tempat apakah ini, mengapa sangat indah?"

"Surga," jawab si penjaga dengan ramah. "Kalau begitu bagus sekali! Kami semua sangat haus, izinkanlah kami masuk ke dalam untuk minum air?" pinta sang petani.

"Anda boleh masuk, tapi kuda dan anjing tidak boleh!", kata si penjaga. "Oh, kalau begitu ya sudahlah", petani pun melangkah pergi, dia tidak tega meninggalkan kuda dan anjingnya, terpaksa melanjutkan perjalanan dengan membawa kedua teman hewannya itu mencari minum. Setelah berjalan cukup lama, mereka menemukan suatu tempat yang ada airnya. Di depan pintu juga ada seorang penjaga.

"Apa kabar, saya dan kuda beserta anjing sangat haus, bolehkah kami minum air di sini?" "Terserah Anda!" kata penjaga pintu.

Petani itu sudah tidak kehausan lagi, ketika kuda dan anjingnya sudah cukup minum air, dia sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih kepada penjaga pintu itu, lalu bertanya, "Mohon tanya tempat apakah ini?"

Penjaga pintu itu berkata, "Di sini adalah Surga." Petani itu jadi sangat bimbang, "Tidak mungkin! barusan saja kami melewati sebuah bangunan dengan pintu besar yang megah, penjaga pintu yang berada di sana juga mengatakan bahwa di sana adalah Surga."

"Di sana itu neraka", jawab si penjaga pintu.

"Astaga, kalian seharusnya mencegah mereka mengacaukan pendapat umum. Hal itu bisa membuat orang salah arah", kata si petani.

"Tidak bisa." Penjaga pintu itu berkata, "Kami masih harus berterima kasih atas bantuan mereka, karena mereka telah membiarkan orang-orang yang mencampakkan teman untuk tetap tinggal di sana." 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Rusa Kecil

Pada suatu pagi yang cerah, seorang punggawa kerajaan yang setia pergi menemani Raja untuk berburu. Kemudian mereka menemukan sekumpulan rusa. Begitu melihat sekelompok manusia yang akan memburunya, rusa-rusa itu pun lari berhamburan dan para prajurit kerajaan berusaha mengejarnya. Akhirnya seorang prajurit datang kepada Raja dan berkata, "Yang terhormat Baginda Raja, lihatlah rusa yang lucu ini."

Prajurit itu memegang seutas tali yang mengikat pada leher seekor rusa kecil yang indah. Sang Raja pun memperhatikan lebih seksama, "Hmmm, engkau benar. Rusa ini sungguh membuat orang menyukainya. Xiba, bawalah rusa kecil ini ke istana sekarang juga. Saya akan memelihara rusa kecil ini di istana". Xiba, si punggawa setia itu menuruti perintah sang Raja. Xiba bersama seorang prajurit pulang duluan karena Raja masih hendak melanjutkan mencari binatang buruan lainnya.

Selama perjalanan pulang, Xiba terus menerus mendengar suara mengiba mengikuti perjalanan mereka, "Wooah, wooah...". "Suara apakah itu?", Xiba menoleh kiri kanan, terlihat olehnya seekor rusa besar yang terus membuntuti mereka. "Mengapa rusa besar itu membuntuti kita di belakang dan terus bersuara?", tanya prajurit.

Xiba berpikir sejenak, "Nampaknya, inilah ibu dari rusa kecil ini". Prajurit berkata lagi, "Suara panggilannya sungguh menyayat hati". Akhirnya Xiba memutuskan, "Kita tidak boleh memisahkan pasangan anak dan induk ini, kita harus melepas rusa kecil ini". "Tetapi, bagaimana dengan titah Raja?", prajurit merasa khawatir. Xiba dengan belas kasih berkata, "Kalau Baginda Raja mau menghukum, biarlah saya yang akan menanggungnya". Kemudian Xiba mengambil tali yang mengikat di leher rusa kecil dari prajurit tersebut dan melepaskannya, "Nah pergilah rusa kecil, lain kali jangan sampai tertangkap lagi ya!" Akhirnya setelah Raja tiba di istana, Xiba pergi menghadap dan melapor kepada Raja. Mendengar itu Raja sangat murka, "Apa? Kamu telah membuat keputusan sendiri dengan melepas rusa kecil itu pergi?" "Hamba mohon pengampunan Baginda, hamba iba melihatnya, ibunya terus mencarinya, sehingga saya melepasnya pergi agar dapat kembali bersama ibunya", kata Xiba. Raja masih saja tetap marah dan berkata," Beraninya kamu melanggar titahku. Segera keluar dari sini, dan kamu tidak boleh menginjak istana ini lagi!"

Selang beberapa bulan kemudian, di suatu sore Raja mengunjungi putra mahkota di ruang belajarnya, tampak putra mahkotanya bosan dan malas belajar. Melihat Baginda Raja, sang putra mahkota berkata, "Ayahanda, putra mahkota bosan dengan buku-buku pelajaran ini. Bukankah Ayahanda menjanjikan seorang Guru baru?" Mendengar keluhan putranya sang Raja bergumam, "Ah, hingga kini saya belum juga menemukan guru yang sesuai."

Setelah berpikir sejenak, "Hmm, saya tahu siapa yang paling cocok menjadi gurunya." Raja berkata kepada patihnya, "Patih, tolong cari dan panggil kembali Xiba ke istana!" Mendengar perkataan sang Raja, si patih mengingatkan Raja,"Baginda yang terhormat, bukankah Xiba saat itu telah melanggar titah Baginda, lalu mengapa harus memanggilnya kembali lagi?".

Raja pun berkata dengan tersenyum, "Xiba tidak hanya mahir dalam bidang sastra, namun yang terpenting dia sangatlah sabar. Terhadap seekor anak rusa pun dia menunjukkan belas kasihnya, jika ingin mencari guru yang sempurna, menurutku hanyalah dia pilihannya."

Pesan dari cerita ini adalah bahwa kebaikan pada akhirnya selalu akan dibalas dengan kebaikan.



Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

27.8.10

Tongkat Besi Diasah Menjadi Jarum

Li Bai adalah seorang penyair tersohor dari dinasti Tang. Li Bai mendapat julukan sebagai "Dewa Penyair". Akan tetapi sewaktu usia belia, dia adalah seorang anak yang nakal dan malas. Pelajaran sekolah pada masa itu kebanyakan mengenai sejarah dan keanekaragaman status sosial, yang cukup menyulitkan Li Bai. Maka Li Bai kecil yang tidak mau bersusah payah itu sering membolos pelajaran, asyik bermain di luar sekolah.

Pada suatu hari Li Bai kecil dibuat pusing dengan pelajaran yang tidak dia sukai. Dia lalu memutuskan melarikan diri dari kelasnya dan pergi ke tepi sungai yang ada di pinggiran kota. Tempat itu sangat menyenangkan bagi Li Bai kecil. Di sana terdapat bunga yang indah, matahari yang cerah, bunyi air mengalir dan kesemuanya ini terasa lebih menggairahkan daripada raut wajah gurunya yang dipenuhi dengan jenggot putih.

Li Bai kecil berlari-lari bagaikan seekor burung kecil yang terbang ke langit biru. Pada saat itu, dia tiba-tiba melihat seorang nenek tua. Seluruh rambutnya putih, sedang asyik berjongkok di seberang sungai. Tangannya memegang sebatang besi yang panjang dan tebal. Si nenek sedang asyik mengasah batangan besi itu di atas batu yang kilap dan halus. Li Bai kecil sangat keheranan melihatnya dan bertanya, "Nenek sedang apa?" "Oh, nenek sedang mengasah jarum," jawab nenek itu. "Mengasah jarum?" kata Li Bai kecil dengan terkejut. "Nenek mau mengasah tongkat besi sebesar ini menjadi sebuah jarum sulam? Sampai kapan jadinya?"

Nenek tua itu berkata pada Li Bai kecil, "Meskipun besi ini besar, tetapi dia tak akan bisa bertahan bila nenek tiap hari mengasahnya. Tiap hari akan mengecil sedikit, lama kelamaan pasti bisa menjadi sebesar jarum."

Mendengar perkataan nenek tua itu, Li Bai kecil tiba-tiba mengerti sesuatu, dia berpikir, "Oh iya, bila mengerjakan sesuatu dapat tekun seperti nenek tua ini, tidak takut susah, dengan sabar tiap hari mengerjakannya, maka sesulit apapun pasti bisa kita kerjakan. Belajar juga harus demikian."

Li Bai kecil akhirnya memberi hormat kepada nenek tua itu. Lalu dia berlari kembali ke kelasnya. Sejak itu Li Bai belajar dengan sungguh-sungguh, akhirnya menjadi seorang penyair yang hebat dan termashyur. 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bantal Labu

Di sebuah pinggir jalan raya, tampak dua pengemis cilik sedang meminta sedekah, "Paman dan bibi yang baik hati, kasihanilah kami." Pengemis yang lebih tua berkata kepada adiknya, "Adik, apakah kita seumur hidup akan menjadi pengemis seperti ini?" "Kak, jangan berkata begitu, asalkan kita rajin, tentu akan menemukan kebahagiaan", jawab sang adik.

Mereka berjalan terus hingga bertemu dengan seorang petani yang sedang mengerjakan sawahnya, sang kakak bertanya pada petani tersebut, "Paman, tahukah anda dimanakah letak kebahagiaan?" Sang petani menjawab, "Mulai dari sini teruslah berjalan ke depan, kalian akan melihat buah labu yang besar, asalkan kalian mengambilnya dan menggunakannya sebagai bantal maka kalian akan merasa bahagia."

Setelah mengucapkan terima kasih, mereka melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan sang kakak mengomel, "Aku tidak percaya pada omongan paman petani itu, mana ada urusan sesederhana itu." "Kak, sekarang ini kita keliling ke segala penjuru tidak tahu arah mana yang dituju, tidak ada salahnya kita mencoba mengikuti petunjuk paman petani tadi", adiknya pun terus menarik-narik tangan si kakak. Si kakak masih mengeluh, "Aku sangatlah lapar, sudah tidak sanggup berjalan lagi."

Di saat mereka duduk dengan kelelahan dan kelaparan yang sangat, lewatlah seorang bibi yang memandang mereka dengan iba. Bibi itu berkata, "Kalian berasal dari mana?" Sang adik bertanya pada bibi tersebut, "Bibi yang baik hati, tahukah anda di mana letak buah labu yang bisa membuat bahagia?" Sang kakak juga berkata, "Bibi, kami adalah dua anak yatim piatu yang sedang kelaparan, mohon Bibi sudi memberikan kami sedikit makanan."

Si bibi berkata, "Kalian seperti anakku yang telah meninggal, ikutlah aku pulang, aku akan memberi kebahagiaan pada kalian." Mereka berdua tentu saja sangat gembira, langsung saja memanggil "Ibu" pada bibi tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, kedua pengemis itu telah tumbuh dewasa, tetapi karakter mereka berdua sangatlah berlawanan. Suatu hari saat makan, sang adik berkata pada kakaknya, "Kak, kalau makan, janganlah boros." Sang kakak menjawab dengan nada tidak senang, "Kenapa kamu selalu mencampuri urusanku? Sekarang ibu sudah meninggal, saya mau melakukan apapun yang kusuka." Sambil berkata demikian, dia membuang sepotong paha ayam ke lantai.

Suatu senja, sang adik membaca buku, kemudian merenung sejenak, "Tinggal di sini memang sangat nyaman, makan tidur semua terjamin, tetapi aku tidak merasakan kebahagiaan." Tiba-tiba dia teringat perkataan si petani itu, "Oh iya.., labu.. saya akan menanam labu.!" Segera si adik menanam bibit labu, ketika labu telah tumbuh besar, dia memotongnya dan menjadikan sebagai bantal tidur, berharap mendapat kebahagiaan. Tapi sang adik tidak bisa tidur nyenyak dengan bantal barunya, "Aduh, kepalaku tergelincir jatuh lagi, menggunakan labu sebagai bantal sungguh tidak dapat tidur nyenyak. Baiklah, karena sudah terlanjur bangun, saya akan mulai bekerja."

Karena tidak tahan dengan kelakuan sang kakak yang rakus dan malas, suatu malam si adik meninggalkan rumah. Berkat kerajinan sang adik, dia tidak hanya mampu membeli tanah, namun juga telah mempersunting istri dan membeli rumah kecil. "Suamiku, bantalmu sungguh aneh", kata si istri. Si suami menjawab, "Oh, ini bantal labu. Saya telah terbiasa mengunakannya untuk tidur. Yah.. saya mengerti sekarang".

Si istri terkaget, "Apanya yang dimengerti?" Suami menjelaskan, "Sekarang saya mengerti, waktu kecil, saya pernah bertemu dengan seorang petani yang mengatakan tidur beralaskan labu akan mendatangkan kebahagiaan. Saya sekarang sangat bahagia, bukankah berkat tidur dengan bantal labu ini." Si istri pun tersenyum, "Tidur dengan bantal labu, membuat orang tidak dapat tidur nyenyak sehingga lebih rajin bekerja. Kebahagiaan didapat berkat rajin bekerja."

Sepasang suami istri sepakat untuk berderma menolong fakir miskin agar dapat berbagi kebahagiaan yang didapat dari bantal labu pada mereka. Sedang sang kakak yang rakus namun malas bekerja, setelah menghabiskan semua harta yang ada menjadi orang yang tidak mempunyai apa pun lagi.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Raja Telinga Keledai

Raja Zanas memerintah dengan sewenang-wenang. Kegemarannya menumpuk harta sebanyak mungkin yang diperolehnya dari pajak rakyatnya. Raja Zanas selain tamak juga seorang raja yang sangat kikir. Rakyat yang hidup sengsara tidak sekalipun pernah dipikirkannya. Anehnya raja yang zalim itu mempunyai kegemaran mendengarkan musik.

Padahal kata orang-orang bijak musik dapat memperhalus perasaan. Oleh karena itu yang menyukainya akan mempunyai perasaan yang lembut tetapi cerdas. Salah satu kegemaran Raja Zanas adalah mendengarkan tiupan suling. Kebetulan di negerinya ada seorang peniup seruling yang sangat pandai bernama Tarajan.

Raja Zanas sangat memanjakan Tarajan dan kerap mengirim peniup seruling itu ke seluruh penjuru negeri bahkan ke luar kerajaannya untuk berlomba. Tarajan selalu jadi juara pertama dan memperoleh hadiah-hadiah yang menggiurkan. Sayang karena hal itu Tarajan menjadi sombong dan congkak. Karena sombongnya, Tarajan mengaku dapat mengalahkan Dewa Apollo. Seorang Dewa bangsa Yunani yang sangat menguasai seni musik.

Tarajan mengusulkan pada Raja Zanas agar ia dipertandingkan dengan Apollo. Usul itu diterima dengan baik bahkan raja merasa bangga jika Tarajan dapat mengalahkan pemain musik dari kerajaan langit itu. Dewa Apollo yang mendengar tantangan itu menyanggupi. Justru Dewa itu ingin memberi pelajaran pada Tarajan dan Raja Zanas yang berkelakuan tidak lazim.

"Seandainya aku kalah biarlah aku mengabdi pada Raja Zanas seumur hidupku. Tetapi andaikan aku yang menang aku minta separuh kerajaanmu dan kuserahkan pada rakyatmu", kata Dewa Apollo. Raja Zanas dan Tarajan setuju. Mereka begitu yakin dapat mengalahkan Apollo yang tampak masih sangat muda itu.

Pada hari yang telah ditentukan pertandingan dimulai. Seluruh rakyat tumpah ruah ke halaman istana. Sedangkan Dewa Zeus sebagai penguasa seluruh khayangan ikut menyaksikan tanpa seorang pun yang tahu. Sebagai penantang Tarajan dipersilahkan meniup seruling terlebih dahulu. Dengan pongah Tarajan naik ke atas podium lalu segera meniup serulingnya. Seruling emas berbalut intan permata milik Tarajan segera mengumandangkan lagu-lagu yang sangat merdu. Naik turun seperti ombak. Lembut seperti angin pesisir. Bergolak seperti ombak menerjang karang.

Semua yang mendengarkan bagaikan tersihir. Begitu hebatnya tiupan seruling Tarajan. Raja Zanas tertawa terbahak-bahak dan yakin sekali peniup serulingnya akan keluar jadi pemenang. Tetapi Dewa Apollo tenang. Diam bagaikan patung, tetapi bibirnya tersenyum. Pertanda kagum juga pada permainan seruling Tarajan. Dan ketika usai sorak sorai seperti membelah angkasa. Tarajan berdiri berkacak pinggang dengan wajah sangat pongah.

Ketika giliran Dewa Apollo, Dewa Kesenian itu mengangkat serulingnya dengan cantik sekali. Lembut bagaikan menimang bayi. Dan ketika bibirnya mulai meniupkan sebuah lagu, langit berpendar-pendar antara siang dan malam. Rakyat yang menonton terhanyut dalam irama yang luar biasa indah. Dengan mata terpejam semua menari dengan lembut sekali. Mereka pun menyanyi sebuah lagu kedamaian yang sekonyong saja mampu dinyanyikan. Rakyat yang jumlahnya tidak terhitung itu larut dalam lagu-lagu dan irama yang sebelumnya tidak pernah mereka dengarkan tetapi sangat merdu mendayu-dayu.

Akhirnya Dewa Zeus yang menampakkan diri menyatakan Apollo sebagai pemenangnya. Dan meminta Raja Zanas segera memberikan separuh kerajaannya pada rakyatnya. Tetapi raja kikir itu menolak hingga membuat Dewa Zeus marah. "Selama kau tidak memberikan pada rakyat apa yang telah kau janjikan, maka telingamu akan membesar setiap hari", kata Dewa Zeus. Memang benar. Telinga Raja Zanas tiap hari semakin besar hingga sangat berat dan membuatnya tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Jadilah ia raja bertelinga keledai. Akhirnya Raja Zanas menyerahkan separuh kerajaannya pada rakyatnya. Dan berjanji tidak lagi kikir dan tamak. Dewa Zeuslah saksi dari ucapannya.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gadis Kecil yang Baik Hati

Dahulu kala, di sebuah negara, terdapat seorang raja yang baik hati. Di negara tersebut terdapat sebuah desa yang agak terpencil, di sana tinggal 5 bersaudara yang sudah tidak mempunyai papa dan mama, mereka sudah yatim piatu. Setiap musim dingin, mereka akan tidur sambil berpelukan untuk menghangatkan badan.

Setelah Raja mengetahui mereka berlima sudah yatim piatu, raja bermaksud mengangkat mereka menjadi anak-anaknya. Dia mengumumkan, bahwa dia akan segera datang ke desa untuk melihat mereka dan akan segera menjadi bapak angkat mereka. Ketika kelima bersaudara ini mengetahui kabar ini, mereka sangat gembira sekali.

Penduduk desa setelah mengetahui hal tersebut juga sangat bersemangat dan beramai-ramai datang ke rumah kelima bersaudara ini menasehati mereka, "Di antara kalian berlima yang bisa menyediakan kado paling istimewa kepada raja tentu akan menjadi kesayangan raja." Mereka semua tidak mengetahui sifat raja yang sebenarnya, mereka hanya menaksir, biasanya seorang raja tentu bersifat siapa yang dapat mengambil hatinya dia yang akan menjadi kesayangan. Setelah mendengar nasehat penduduk desa, kelima bersaudara ini dengan giat segera mempersiapkan kado untuk raja, untuk mengambil hati raja.

Salah satu di antara kelima bersaudara ini mempunyai keahlian memahat kayu, dan dia bermaksud mengukir sebuah benda yang istimewa untuk raja, dengan pisaunya dia sibuk mengukir di sebuah kayu, karena dia ahli sekali dengan seni ukir maka setiap barang yang diukir kelihatan seperti benda hidup.

Kakaknya bermaksud melukis sebuah lukisan surga, supaya raja dapat mengantungkan lukisannya di istana raja, kakaknya yang lain sangat pintar menyanyi dan bermain alat musik, dia akan menghadiahkan sebuah lagu yang merdu kepada raja, setiap hari dia berlatih menyanyi, sehingga penduduk desa yang lewat akan berhenti di depan jendela rumah mendengarkan suara nyanyiannya yang merdu.

Seorang abangnya menginginkan raja mengetahui kepintarannya, sehingga setiap malam dia belajar sampai tengah malam, matematika, ilmu alam, ilmu pasti semua dipelajarinya, dia sangat pintar dan ingin raja mengagumi kepintarannya.

Tetapi si bungsu di antara kelima bersaudara ini tidak mengetahui akan menghadiahkan kado apa kepada raja? Gerakannya agak lamban sehingga tidak cocok untuk mengukir, tangannya sangat kaku sehingga tidak bisa melukis, suaranya yang tidak merdu membuatnya tidak bisa menyanyi dan otaknya tidak begitu pintar seperti kakak-kakaknya.

Dia hanya seorang gadis kecil yang menjaga kuda, biasanya dia akan berdiri di depan jalan yang masuk ke desa mereka, dan melihat keramaian orang yang lewat, setiap ada kesempatan dia akan membantu penunggang kuda yang lewat untuk memberi makan, minum kuda, dan menyikat bulu kuda, mereka akan memberikannya sedikit uang dan dengan uang ini dia akan memberi makanan untuk abang dan kakak-kakaknya.

Gadis kecil ini menganggap dirinya tidak ada yang istimewa yang dapat diberikan kepada raja. Tetapi sebenarnya dia mempunyai sebuah hal yang istimewa yang dia sendiri tidak tahu, hatinya sangat baik, dia akan menyapa setiap pengemis dengan namanya. Dia akan memberi makan kepada anjing dan kucing jalanan yang kelaparan. Dia akan dengan ramah menyapa setiap orang yang berkunjung ke desa mereka dan memberi bantuan kepada mereka, dan bertanya kepada mereka, "Apakah kalian capek dalam perjalanan ini? Dapatkah kalian memberitahukan kepada saya apa yang kalian pelajari di perjalanan ini? Apakah engkau menyukai pekerjaan anda yang baru?" Dengan ramah dan sabar dia akan mengobrol dan mendengar keluh kesah orang yang lewat.

Karena hatinya yang lapang, dan perhatiannya yang besar kepada orang lain, ia ingin mengetahui keadaan orang lain, dia selalu bertanya, tidak pandang bulu kepada siapa saja, terhadap seorang pengemis maupun seorang saudagar kaya yang lewat dia akan selalu menyapa mereka dengan ramah. Gadis kecil ini masih menganggap dirinya bukan apapun, karena itu dia khawatir raja tidak akan menyukainya. Dia ingat nasehat dari penduduk desa maka dia harus memberikan sebuah kado yang istimewa untuk raja.

Dia mengambil sebuah pisau kecil, datang ke samping abangnya yang pintar mengukir dan berkata, "Abang, dapatkah engkau mengajar saya mengukir?" Abangnya yang sedang sibuk tidak melihat ke arahnya menjawab, "Maaf, saya sibuk sekali, engkau tahukan raja akan segera datang." Gadis kecil ini lalu meletakkan pisau kecilnya dan mengambil sebuah kuas untuk melukis.

Dia lalu datang ke tempat kakaknya di lembah gunung sedang melukis matahari terbenam. "Lukisanmu sungguh cantik kakak !" gadis kecil yang baik hati ini berkata dengan lembut. "Saya tahu." jawab kakaknya. "Dapatkah engkau mengajar saya melukis?" gadis kecil ini bertanya. "Sekarang tidak bisa", jawab kakaknya tanpa memalingkan kepala kepadanya, "Engkau tahukan raja akan segera datang."

Gadis kecil ini teringat kepada kakaknya yang pintar menyanyi. "Kakak yang ini tentu akan membantu saya", dalam hati dia berkata. Dia datang ke tempat kakaknya dan melihat banyak orang yang mengelilingi mendengar kakaknya bernyanyi. "Kakak ! Kakak ! saya datang mendengar engkau bernyanyi, bisakah engkau mengajar saya bernyanyi !" teriak gadis kecil ini. Tetapi kakaknya tidak mendengar suara teriakannya karena orang ramai sedang bertepuk tangan dengan meriah.

Maka dengan sedih gadis kecil ini menundukkan kepala meninggalkan tempat ini. Saat ini dia teringat dia masih mempunyai seorang abang yang pintar dan rajin belajar. Lalu dia mengambil sebuah buku dan lari ke tempat abangnya. Gadis kecil ini berkata kepada abangnya, "Saya tidak ada kado untuk diberikan kepada raja, dapatkah engkau mengajar saya membaca, supaya raja dapat melihat kepintaran saya membaca." Abangnya yang kutu buku tidak menjawab, dia sedang asyik merenung. Lalu gadis ini berkata lagi, "Abang, dapatkah engkau membantu saya?, saya apapun tidak..." "Pergi dari sini !" teriak abangnya memutuskan percakapan adiknya. "Engkau tahukan raja akan segera datang."

Dengan sedih gadis kecil ini meninggalkan abangnya. Tidak ada kado istimewa yang bisa dia sediakan untuk raja, lalu dia pergi ke gerbang masuk ke desa melanjutkan pekerjaan biasa yaitu memberi makan kepada hewan dan duduk di sana menunggu orang lewat.

Beberapa hari kemudian, seorang bapak datang ke desa mereka. "Dapatkah engkau memberi makan kepada keledai saya ?", tanya bapak ini kepada gadis kecil. Mendengar suaranya lembut, gadis kecil ini langsung berdiri, dan memperhatikan wajah bapak ini. Di bawah cahaya matahari, wajahnya yang berwarna tembaga yang disinari matahari kelihatan bercahaya, matanya kelihatan lembut dan dengan suara ramah membuat gadis kecil ini merasa akrab dengannya. "Tentu bisa, serahkan kepada saya saja", jawab gadis kecil ini dengan cepat dan menarik keledai ke tempat penampungan air dan memberi dia minum. "Tinggalkan saja dia di sini saya akan memberi dia makan, minum, dan menggosok bulunya sampai kilat."

Gadis kecil ini sambil memberi keledai minum sambil bertanya kepada bapak ini, "Apakah engkau akan menginap di desa ini ?" Ia menjawab "Ya saya akan menginap di sini beberapa hari, saya datang ke desa ini mencari orang." "Bapak datang dari tempat yang jauh, dalam perjalanan tentu capek ya?" "Ia, saya merasa capek." "Jika capek, bapak bisa duduk di bangku sana beristirahat sebentar", kata gadis kecil ini sambil menunjuk ke sebuah bangku panjang yang terletak di dekat dinding. Bapak ini duduk di kursi dan menyandar di dinding karena kecapekan lalu tertidur dengan nyenyak.

Tidak berapa lama kemudian, dia terbangun dan melihat gadis kecil ini duduk di dekat kakinya sedang memperhatikannya, setelah gadis kecil ini melihatnya terbangun dengan malu memalingkan kepalanya. Bapak ini berkata, "Anakku, engkau sudah lama duduk di sini ?" "He..eh". "Apa yang sedang engkau lihat ?" "Tidak ada apa-apa, saya hanya merasa engkau sangat ramah, saya merasa nyaman duduk di dekat bapak." Bapak ini tertawa dengan gembira "Engkau seorang gadis kecil yang baik, setelah saya kembali dari mencari orang, saya akan datang menjenguk engkau lagi."

Beberapa saat kemudian Bapak ini kembali lagi. "Engkau sudah bertemu dengan orang yang engkau cari ?" gadis kecil ini bertanya. "Sudah bertemu, tetapi mereka semua sedang sibuk." "Kenapa bisa begitu ?" "Orang yang pertama akan saya cari adalah seorang pengukir, dia sedang sibuk mengukir sebuah benda, dia menyuruh saya kembali lagi besok, orang yang kedua yang akan saya cari adalah seorang pelukis, saya melihat dia sedang melukis di atas gunung, penduduk desa di lereng gunung berkata dia sedang sibuk tidak ingin diganggu orang lain. Yang lain adalah seorang penyanyi, saya duduk mendengar dia bernyanyi dan ingin berbicara dengannya tetapi dia sibuk bernyanyi terus. Yang seorang lagi tidak ada di tempat, dia sedang sekolah di kota.”

Sekarang gadis kecil ini mengetahui siapa bapak ini. Dengan mata melotot dan menarik nafas dalam-dalam dia berkata, "Engkau tidak kelihatan seperti seorang raja." "Sebisa mungkin saya berusaha tidak serupa dengan raja", jawab raja. "Karena menjadi seorang raja akan kesepian, orang-orang di samping saya tidak menganggap saya sebagai orang biasa, mereka selalu menginginkan mendapat keuntungan dari saya, selalu berkeluh kesah dan menjilat kepada saya." "Tetapi, bukankah ini sifat raja ?" jawab gadis kecil ini. "Tentu saja demikian, tetapi kadang-kadang saya juga ingin dekat dengan rakyat saya, kadang-kadang berbicara dengan mereka, mendengar kebiasaan hidup mereka, bercanda dan menangis dengan mereka, kadang-kadang ingin menjadi bapak mereka."

"Oh, itu yang membuat engkau ingin memungut anak-anak yatim piatu." "Benar, karena orang dewasa biasanya suka menjilat saya, anak kecil tidak demikian, mereka sangat polos dan akan mengobrol dengan saya, mereka tahu saya benar-benar mencintai mereka dan cinta mereka terhadap saya tanpa pamrih." "Tetapi abang-abang saya sangat sibuk, mereka hanya ingin memberi sebuah kejutan untukmu." "Saya tahu, saya akan kembali lagi, mungkin di saat itu mereka tidak begitu sibuk lagi."

Gadis kecil ini berpikir sejenak, "Bagaimana dengan saya bapak?, saya tidak ada sesuatu pun yang bisa saya berikan kepadamu, tetapi saya ingin menjadi anakmu?". Dengan tertawa terbahak-bahak raja menjawab, "Anakku sayang, engkau adalah hadiah terbaik bagiku, engkau telah memberikan hatimu, kebaikanmu, waktumu, juga cintamu, engkau tentu bisa menjadi anakku, saya mencintai sifat aslimu." Kakak-kakaknya yang pintar sibuk dengan keahlian masing-masing, sehingga tidak mempunyai waktu bertemu dengan raja, sedangkan gadis kecil ini yang tidak mempunyai keahlian apa pun, hanya mempunyai sebuah hati yang baik, tulus, ramah dan tidak berusaha mengubah sifat aslinya yang baik malah menjadi anak angkat raja. 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Chen Shi dan Pencuri

Seribu tahun yang lalu, ada seorang yang bernama Chen Shi, dia adalah seorang yang pintar dan terpelajar, oleh sebab itu penduduk di daerah tempat tinggalnya sangat menghormatinya. Chen Shi adalah seorang yang disiplin terhadap diri sendiri, dia tidak mencuri, tidak berkata bohong, suka membantu orang lain. Dia juga mendidik anak dan cucunya dengan disiplin yang ketat, di setiap kesempatan dia selalu menasehati anak dan para cucunya. Karena dia selalu mendidik dan menasehati mereka dengan cara yang ramah, anak cucunya selalu mendengar nasehatnya.

Tahun ini, di tempat tinggalnya terjadi bencana banjir, banjir besar ini merendam semua sawah, padi tidak dapat dipanen sehingga ribuan orang kelaparan, banyak di antara mereka yang jadi pengemis, banyak di antara orang miskin yang kelaparan menjadi pencuri menyebabkan kampung ini tidak aman lagi.

Pada suatu malam, bulan purnama bersinar dengan terang, malam sangat sepi, seorang pencuri masuk ke rumah Chen Shi bermaksud mencuri, pada saat itu dia mendengar suara terbatuk, pencuri berpikir, waduh.! penghuni rumah terbangun, saya harus bersembunyi di mana supaya tidak ketahuan? Dia sangat ketakutan. Semakin takut dia semakin panik tidak tahu harus bersembunyi di mana. Pada saat itu ia memandang ke atas dia melihat sebuah tiang besar di atas atap rumah. Ha..ha..! Saya mendapat akal.! Akhirnya pencuri ini memanjat ke tiang besar dan bersembunyi di atas atap rumah, setelah susah payah naik dengan tangan gemetar dia memeluk tiang dan bersembunyi, dia tidak berani bernafas dengan kuat karena takut ketahuan, dia berpikir saya sembunyi di sini pasti tidak ketahuan. Saya akan menunggu sampai pemilik rumah tidur lalu turun ke bawah dan mencuri barang-barangnya.

Pada saat ini, pemilik rumah membawa sebuah lampion memasuki ruangan tempat persembunyian pencuri itu. Dia bermaksud membaca buku, begitu dia menengadahkan kepalanya ke atas atap rumah dia melihat sebuah kain biru, seperti baju seseorang dia langsung tahu bahwa pencuri bersembunyi di rumahnya, tetapi dia tidak sibuk berteriak atau menangkap pencuri, dengan perlahan-lahan dia meninggalkan ruangan ini.

Chen Shi perlahan-lahan membangunkan anak dan cucu-cucunya dan mengajak mereka ke ruangan tempat pencuri berada. Lalu dengan suara yang serius dia menasehati anak dan cucu-cucunya, "Anak dan cucu-cucuku, kehormatan adalah prinsip dasar kita sebagai manusia, di setiap kesempatan walaupun kita hidup dengan susah kita harus mempunyai disiplin yang ketat terhadap diri sendiri, jangan karena alasan apa pun membuat kita berbuat jahat dan tidak jujur, kalian semua harus ingat nasehat saya ini."

"Kami akan mengingat nasehat ini selamanya", jawab anak cucu Chen Shi dengan suara keras. Tetapi mereka tidak tahu kenapa Chen Shi membangunkan mereka dan menasehati mereka pada tengah malam ini. Anak dan cucunya saling pandang dalam hati mereka berpikir, "Pasti terjadi sesuatu yang gawat.!"

Chen Shi melanjutkan nasehatnya, "Sebagian orang jahat mereka bukan dilahirkan sudah jahat, tetapi karena mereka tidak dapat berdisiplin kepada diri sendiri, lama kelamaan sifat mereka makin lama makin jelek sehingga sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah tidak bisa diubah lagi, akhirnya benar-benar menjadi seorang penjahat, seperti tuan yang bersembunyi di atas atap rumah kita ini adalah orang yang demikian, kalian jangan karena miskin lalu menjadi penjahat, tahukah kalian, jika berbuat jahat, kelak akan menjadi lebih miskin lagi atau akan kena penyakit?"

Anak dan cucunya mendongakkan kepalanya melihat ke atas atap rumah, "Oh.! Rupanya ada pencuri bersembunyi di atas atap rumah kami.!" Pada saat ini anak dan cucunya baru sadar kenapa mereka dinasehati malam-malam begini, mereka semua merasa perkataan Chen Shi sangat benar dan bijak.

Pencuri yang bersembunyi di atas atap rumah, mendengar perkataan Chen Shi sangat kaget, "Oh rupanya saya dari tadi sudah ketahuan." Bersamaan dengan itu pencuri juga sangat terharu dengan nasehat Chen Shi. Pencuri berpikir, "Tuan rumah ini dari tadi sudah tahu saya bersembunyi di sini tapi tidak menangkap saya, malah dengan sabar menasehati saya. Saya harus berterima kasih kepada tuan rumah ini.!” Akhirnya pencuri turun dari atap rumah dan berlutut di depan tuan rumah sambil menangis berkata, "Tuan, apa yang tuan katakan sangat benar, saya tahu saya telah berbuat salah, lain kali saya tidak akan mencuri lagi, tolong maafkan saya.!”

Sambil tersenyum ramah Chen Shi berkata, "Melihat tampangmu, engkau bukan seorang penjahat, jangan karena miskin kita menjadi penjahat, dengan berbuat jahat kita akan semakin miskin dan kena penyakit.! Sesudah sampai di rumah coba engkau simak dengan baik nasehat saya ini, berubah sekarang masih sempat." Setelah Chen Shi berkata demikian, lalu dia memalingkan kepalanya ke anak sulungnya dan berkata, "Anakku, coba engkau lihat di rumah kita masih ada bahan makanan apa? Bagikan sedikit kepada tuan ini." Pencuri menerima sekarung beras dari anak sulung Chen Shi dengan berlinang air mata. Ketika dia meninggalkan rumah Chen Shi mulutnya masih komat-kamit mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, "Terima kasih... terima kasih, kalian sekeluarga benar-benar orang yang baik hati, lain kali saya tidak akan mencuri lagi." 



Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

26.8.10

Cobaan dari Dewa Laut

Dahulu kala ada seorang yang sangat miskin, dia tidak mempunyai apa-apa tetapi dia adalah seorang yang sangat jujur, tidak pernah melanggar hukum. Ia bekerja di tempat seorang pedagang kaya. Pada suatu hari pedagang ini mengajak teman-temannya dan si miskin menyelam ke dasar laut mencari harta karun. Mereka mendapat banyak harta karun dan bermaksud naik kapal kembali ke kota mereka. Tetapi kapal berhenti di tengah laut tanpa sebab, lalu mereka mencoba berbagai cara memperbaiki kapal, tetapi tetap tidak bisa bergerak. Mereka semua merasa panik, mereka tahu karena mereka mengambil harta karun di laut sehingga membuat Dewa Laut marah kepada mereka, mereka mendapat hukuman dari Dewa Laut, mereka semua berlutut dan berdoa meminta ampun kepada Dewa Laut, memohon Dewa Laut membiarkan mereka selamat pulang ke rumah.

Dewa Laut sengaja menghukum pedagang-pedagang tamak ini, tetapi di dalam kapal ini ada seorang miskin yang baik hati, tidak mungkin menghukum dia, Dewa Laut berpikir dan mendapat akal. Dewa Laut berpikir, "Saya akan coba menguji pedagang-pedagang kaya ini! Jika mereka bisa melewati cobaan yang saya berikan, saya akan mengampuni mereka semua, tetapi jika mereka tidak bisa melewati cobaan, saya tidak mungkin mengorbankan si miskin orang baik yang ada di antara mereka."

Kapal berhenti di tengah laut sudah 7 hari 7 malam sama sekali tidak dapat dijalankan, pedagang-pedagang ini sudah sangat ketakutan. Pada tengah malam ke-7, salah seorang pedagang ini bermimpi, di dalam mimpinya Dewa Laut berkata kepadanya, "Asalkan kalian berikan kepada saya si miskin ini jadi kurban, kalian sudah bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat." Setelah dia bangun dari tidurnya, dia menceritakan mimpinya kepada mereka semua.
Ketika mereka dengan rahasia berunding cara penyelesaian masalah ini, pada saat ini si miskin mengetahui kabar tersebut.

Si miskin lalu berkata kepada mereka, "Baiklah! Saya akan menjadi kurban Dewa Laut, jangan karena saya sendiri menyebabkan kalian semua celaka." Ketika pedagang-pedagang tersebut mendengar si miskin dengan sukarela mengorbankan dirinya, mereka semua sangat gembira, karena mereka berpikir mereka sudah dapat terlepas dari bahaya. Akhirnya mereka menyediakan sehelai papan, sedikit makanan dan air, lalu menyuruh si miskin naik ke papan meninggalkan kapal mereka.

Melihat perbuatan mereka semua, dengan marah Dewa Laut menghembuskan sebuah ombak yang besar membuat kapal mereka terbalik, mereka semua mati di tengah laut menjadi santapan ikan. Pada saat bersamaan dia juga menghembuskan angin ke papan si miskin sehingga dengan selamat dia bisa mendarat ke daratan. Akhirnya dengan selamat si miskin bisa sampai ke rumahnya dan berkumpul dengan keluarganya. 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Raja Semut

Pada suatu hari, raja semut yang berada di sarangnya yang berada di dalam goa, memerintah prajurit-prajuritnya keluar mencari makanan. Seekor semut kecil bertemu dengan seekor lalat yang mati, lalu pulang melapor kepada rajanya, ”Saya melihat seekor lalat mati di tepi jalan, ayo kita ramai-ramai menggotong pulang lalat tersebut dan disantap bersama.”

Raja semut dengan malas-malas berkata, ”Seekor lalat mana cukup untuk kita semua makan, saya tidak akan pergi.” Beberapa saat kemudian, datang lagi seekor semut melapor, ” Di padang rumput saya melihat seekor capung yang mati, kita bawa pulang untuk disantap ya!” Raja semut menggelengkan kepalanya, ”Seekor capung mana cukup untuk kita makan, tidak saya tidak akan pergi.” Setelah berkata demikian datang lagi seekor semut melapor, ”Saya melihat seekor kerbau yang mati di bawah sebatang pohon, kita ke sana menyantapnya.” Setelah mendengar perkataan semut ini Raja semut dengan gembira memerintah semua prajurit-prajuritnya ikut bersamanya pergi menyantap daging kerbau.

Semua prajurit-prajuritnya dengan gembira menari-nari, mereka mengikuti raja semut pergi ke bawah batang pohon, begitu mereka sampai di sana mereka melihat seekor kerbau yang terbaring di bawah pohon, sebelum diperintah raja semut, prajurit-prajurit tersebut semuanya menyerbu ke badan kerbau, ada yang menggigit, ada yang mengerogoti kulitnya, ada yang menarik kulitnya, pemandangan ini kelihatan lebih seru dari semut merebut gula-gula. Rupanya kerbau hanya berbaring beristirahat saja, begitu digigit dan digerogoti oleh para semut, kerbau langsung terbangun dari tidurnya. Begitu terbangun dari tidurnya, kerbau merasa badannya gatal-gatal digigit semut, lalu membalikkan badannya, begitu membalikkan badan banyak semut-semut yang mati tertimpa oleh badannya yang besar. Melihat situasi demikian raja semut memerintah prajurit-prajuritnya segera lari dari sana, sebelum dia selesai berkata, kerbau sudah berdiri dan berjalan menuju ke sungai. Para semut dengan ketakutan berteriak meminta tolong. Kerbau sampai di sungai langsung menceburkan dirinya ke dalam sungai, para semut terapung di atas air dan dihanyutkan oleh air sungai.

Raja semut terhanyut sampai di tepi sungai dengan susah payah dia naik ke daratan, melihat semua prajurit-prajuritnya hilang dibawa arus, dengan menyesal dan suara keras dia menangis dengan sedih di pinggir sungai, ”Semua ini terjadi karena rakus dan sial, kenapa saya demikian tamak!”

Ada pepatah mengatakan, ”Sedikit lama-lama menjadi bukit.” Pepatah ini setiap orang pasti tahu, tetapi hanya beberapa orang yang bisa mengerti maknanya, manusia jika sudah tergiur oleh nama, jabatan dan harta akan lupa daratan, sehingga lupa diri, kesalahan kecil seseorang akan membuatnya kehilangan nama, harta dan jabatan, kesalahan besar sebuah negara akan membuat negara itu hancur. Mari kita bersama-sama mempertahankan watak dasar kita yang sejati dan baik supaya terhindar dari malapetaka. 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Orang Tua Penjual Tanah

Di desa kami senantiasa tersebar sebuah cerita. Dahulu kala, ada suatu tempat yang berjarak kira-kira dua sampai tiga kilometer arah barat daya dari desa kami, terdapat sebuah dusun yang bernama marga Gao. Kaum lelaki dusun tersebut bercocok tanam, sedangkan kaum perempuan bertenun. Hidup mereka berkecukupan dan makmur.

Pada suatu hari, dusun itu kedatangan seorang lelaki tua berpakaian compang-camping. Dia memikul dua keranjang bambu yang diisi tanah, berjalan di sepanjang jalan untuk dijual. Akan tetapi tidak ada orang yang sudi menanyakannya. Orang tua itu melihat tidak ada siapa pun yang mau membeli tanah, dia lalu berkata kepada penduduk dusun, "Di rumah saya masih ada seorang ibu renta yang harus saya hidupi. Kami sudah kehabisan beras untuk beberapa hari, saya juga tidak memiliki barang untuk dijual, maka terpaksa memikul tanah ini untuk ditukar dengan uang demi menghidupi ibu saya."

Penduduk dusun tidak pernah mendengar hal yang sedemikian aneh, menjual tanah untuk ditukar dengan uang. Mereka semua tak bisa menahan tawa, ada seseorang menyeletuk, "Pak tua, apa keistimewaan tanah ini? Bukankah ini ada di mana-mana, jadi siapa yang mau membelinya?" Pak tua itu menjawab, "Benda ini kelihatannya biasa, tetapi benda ini memuat De (baca te, = pahala, berkah) yang besar. Dia bisa menolong manusia di saat menghadapi bencana besar. Mohon kepada siapa yang berhati baik, kasihanilah ibu saya yang ada di rumah. Belilah sepikul tanah ini!"

Pak tua ini baru selesai berbicara, ada seorang lain yang menimpali, "Tanah memangnya bisa menolong orang? Siapa yang percaya? Pak tua jangan-jangan Anda mau menipu kami." Perkataan tersebut menyebabkan semua orang tertawa lagi. Kelihatannya tidak ada seorang pun yang mau membeli tanahnya. Lalu pak tua itu sembari menghela nafasnya dan berkata, "Saya ini orang tua yang telah berjalan menelusuri jalan dan lorong, menjual tanah mengantarkan huo (= hidup), sudah puluhan hari. Namun sayang sekali tidak ada orang yang mau membeli. Kasihan sekali ibuku yang tua renta, dia harus menahan lapar lebih lama lagi."

Saat itu, ada seorang berusia paruh baya bermarga Gao. Orangnya jujur dan baik hati. Dia menaruh iba pada keadaan pak tua yang sangat kasihan itu, dia lalu berkata, "Pak tua, saya beli tanahmu itu seharga 300 tail. Tolong Anda letakkan tanah itu di halaman depan rumah saya saja, dan cepat-cepatlah bergegas pulang, agar ibumu yang ada di rumah tidak menjadi khawatir." Semua orang yang melihatnya, menertawakan orang yang membeli tanah itu sambil membubarkan diri.

Saat itu, hari sudah beranjak malam, si pak tua penjual tanah masih sibuk menebarkan tanah di sekeliling rumah orang yang bermarga Gao tadi. Setelah selesai, lalu pak tua itu berkata pada tuan rumah, "Huo (= hidup) sudah saya berikan kepada Anda." Kemudian dia meninggalkan tempat itu, hilang dalam kegelapan malam. Malam itu, bumi serasa merekah dan langit runtuh, gunung bergoncang dan laut berderu, hujan badai bagaikan air yang tertuang dari langit. Dalam legenda dikatakan bahwa Laut Utara menyatu dengan Laut Selatan.

Keesokan harinya, marga Gao yang baik hati itu membuka pintu untuk melihat. Namun alangkah terkejutnya ia melihat rumahnya dikelilingi oleh tanggul dari tanah. Di luar tanggul hanya terlihat air bagai lautan. Seluruh tetangganya habis tersapu air bah, hanya rumahnya sendiri selamat karena dikelilingi oleh tanggul tanah.

Marga Gao yang baik hati itu segera mengerti. Ternyata pak tua penjual tanah itu telah menyelamatkan nyawanya sekeluarga. Pak tua itu menyebarkan tanah untuk menghadang air bah. Setelah air bah surut, marga Gao yang baik hati itu itu membawa keluarganya untuk pindah ke tempat lain.


Dari cerita tersebut, kita bisa mendapatkan pemahaman bahwa kebajikan bisa menolong diri sendiri. Tepat adalah tindakan kebaikan orang marga Gao yang telah menyelamatkan nyawa seluruh keluarganya. Tuhan hanya menolong manusia yang baik. Jika saja penduduk dusun itu mengerti bahwa tindakan kebaikan itu dapat menyelamatkan nyawa mereka, sudah pasti mereka akan membantu pak tua penjual tanah itu. Akan tetapi sejarah itu telah berlalu, dan tidak bisa diulang kembali, jadi penduduk dusun itu juga tidak memiliki kesempatan untuk memilih sekali lagi, pelajaran yang mereka dapatkan hanya bisa menjadi komentar dan sebagai referensi bagi generasi penerus.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Momotaro

Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mencuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach). Nenek memungut momo itu. “Sepertinya, momo ini manis.” Nenek mengambil momo yang besar itu dan membawanya pulang.

Malam pun tiba. Kakek pulang memikul kayu bakar. “Nenek, nenek, kakek sudah pulang.” “Kakek, ya, selamat datang. Hari ini, nenek menemukan momo yang besar di sungai. Sekarang ada di lemari”, kata nenek sambil mengeluarkan momo itu dan meletakannya di atas talenan. Lalu, nenek menempelkan pisau dapur pada momo tersebut untuk membelahnya. Tapi, momo tersebut membelah sendiri dan dari dalamnya keluar anak laki-laki yang lucu. Begitu keluar anak laki-laki itu langsung menangis. Kakek dan nenek terkejut.

“A, aduh, gawat ini.” Kakek dan nenek panik. Setelah tangisnya reda kakek berkata, “Karena anak ini muncul dari dalam momo, kita harus menamainya Momotaro.” Begitulah Momotaro dinamai.

Kakek dan nenek memberi Momotaro bubur, ikan, dan merawatnya dengan hati-hati. Kalau Momotaro diberi semangkuk nasi, dia akan makan semangkuk. Kalau Momotaro diberi dua mangkuk nasi, Momotaro akan makan dua mangkuk. Tak terasa Momotaro tumbuh jadi besar. Lalu, kalau dia diajari berhitung satu, maka dia dapat menghitung sampai sepuluh. Akibatnya Momotaro jadi terkenal. Selain itu, tenaganya makin lama makin kuat, dan tanpa disadari tak seorang pun anak-anak di sekitarnya dapat menyaingi kemampuan Momotaro. Pintar, kuat, dan berbakat. Momotaro jadi anak yang hebat. Karena Momotaro sangat lucu, kakek dan nenek makin gembira membesarkannya.

Suatu hari, Momotaro menghadap kakek dan nenek, duduk di depan kakek dan nenek dan memohon sambil berkata, “Kakek, nenek. Karena aku sudah besar aku mau pergi ke pulau hantu untuk menaklukkan hantu yang suka merampas barang manusia. Tolong buatkan bekal kibi dango (sejenis kue mochi yang berisi kacang) paling enak di Jepang.”

Kakek dan nenek serentak berkata, “Kau masih kecil. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Untuk apa kau ke pulau hantu, menangkap para hantu itu?” Walaupun sudah dilarang, Momotaro tak peduli. “Kakek, nenek, aku memang sendirian, tapi 50 atau 100 ekor hantu bukan masalah buatku.” “Kalau begitu baiklah,” kata kakek dan nenek.

Tak lama berselang Momotaro dibuatkan bekal kibi dango paling enak di Jepang. Kemudian Momotaro juga diberi ikat kepala hachimaki, celana lebar hakama, dan pedang pendek yang baru. Lalu, di punggungnya juga dipasangkan bendera bertuliskan ‘Momotaro terkuat nomor satu di Jepang’. Momotaro berangkat ke pulau hantu.

Pada saat akan meninggalkan desa seekor anjing terus-menerus menyalak mengikuti Momotaro. “Momotaro, Momotaro, kau mau pergi ke mana?” “Ke pulau hantu, menaklukkan hantu.” “Aku mau menemanimu ke pulau hantu asalkan kau mau memberiku sebuah kibi dango.” “Baiklah, kalau begitu kau jadi anak buahku. Kalau kau makan kibi dango ini kekuatanmu akan bertambah 1000 kali lipat,” kata Momotaro mengeluarkan sebuah kibi dango dari kantong dan menyerahkan pada anjing itu. Anjing itu menjadi anak buah Momotaro.

Tak lama kemudian, burung gagak berkoak-koak mendekati Momotaro. Lalu, sama seperti anjing, Momotaro memberinya sebuah kibi dango dan menjadikan burung gagak itu anak buahnya. Lalu, beberapa saat kemudian, monyet berteriak-teriak mendekati Momotaro. Monyet pun menjadi anak buah Momotaro setelah diberi sebuah kibi dango. Momotaro jadi jenderal, anjing jadi pembawa bendera, monyet jadi pembawa pedang. Mereka melanjutkan perjalanan ke pulau hantu. Sampailah Momotaro dan ketiga anak buahnya di depan gerbang yang hitam dan besar di pulau hantu. Langsung saja monyet mengetuk pintu gerbang.

Dari dalam terdengar suara. “Siapa itu?” Lalu keluarlah setan merah. “Aku Momotaro terkuat nomor satu di Jepang. Aku ke pulau hantu ini untuk menaklukkan hantu. Enyahlah kalian semua.” Setelah mengatakan itu, Momotaro menghunus dan menusukan pedangnya. Monyet bertarung dengan tombak, sedang burung gagak dan anjing dengan pedang. Anak-anak hantu yang ada di tempat itu ribut besar dan lari ke dalam. Di dalam banyak hantu-hantu berkumpul sedang pesta sake. Momotaro masuk ke dalam untuk mengejar anak hantu.

“Apa, Momotaro?” kata hantu-hantu linglung dan keluar dengan sempoyongan. Karena Momotaro dan ketiga anak buahnya sudah makan kibi dango yang membuat mereka jadi prajurit perkasa yang kekuatannya bertambah jadi 1000 kali lipat, hantu dapat dikalahkan, dilempar-lempar, dan ditusuk-tusuk. “Kami sama sekali tak dapat mengimbangi. Ampunilah jiwa kami. Mulai hari ini kami tak akan berbuat jahat lagi.” Jenderal hantu hitam memohon di hadapan Momotaro. Dari matanya yang besar mengalir setetes air mata. Kepalanya dibenturkan ke tanah meminta ampun. “Baiklah, kalau memang kalian tak akan berbuat jahat lagi, maka jiwa kalian kuampuni.” Momotaro mengampuni hantu-hantu itu. “Kami tak akan pernah berbuat jahat lagi. Semua barang-barang berharga ini kuserahkan padamu.” Janji jenderal hantu. Lalu jenderal hantu memerintahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barang rampasan yang ada di gudang, barang-barang yang selama ini dirampas dari manusia. Momotaro menaikkan barang-barang itu ke atas kendaraannya dan menyuruh anjing, monyet, dan burung gagak menariknya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kakek dan nenek. Peristiwa ini sampai juga ke telinga bidadari. Bidadari memberi Momotaro hadiah yang sangat banyak. Lalu, Momotaro hidup bahagia bersama kakek dan nenek. 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS