Welcome to My Blog.. Whoever are you.. You're so special.. Because everyone is no. 1.. So don't forget to smile today ^__^ Jiayou.. ^^V
RSS
Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts

3.9.10

Sebuah Surat dari Tuhan

Anak-Ku...
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti... Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk. Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku. Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepada-Ku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa... Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku. Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu. Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali. Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu.

Semoga harimu menyenangkan.


Tuhan


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

26.8.10

Anjing Penjaga Harta

Alkisah, pada zaman dahulu kala, seorang Budha berjalan melewati rumah orang kaya. Budha adalah sebutan bagi orang yang mendapatkan pencerahan. Orang kaya ini kebetulan tidak berada di rumah. Rumah orang kaya ini sangat mewah, perabot furniture di dalam rumah sungguh nyaman. Di dalam ruang tamu ada sebuah kursi malas yang mewah.

Orang kaya ini memelihara seekor anjing. Anjing ini menjadi kesayangan majikannya. Biasanya kursi malas yang ada di ruang tamu ini tidak boleh diduduki orang lain. Hanya anjing itu yang selalu tidur di kursi malas yang empuk dan hangat itu. Anjing itu bahkan sangat jarang dan hampir tidak pernah meninggalkan kursi malasnya. Bahkan, ketika si anjing makan sehari tiga kali pun, dia tetap duduk di atas kursi ini. Makanan anjing ini dihidangkan dengan peralatan makan yang sangat mewah.

Ketika Budha memasuki rumah itu, bertepatan saat anjing ini sedang makan. Ketika anjing ini melihat Budha, dia melompat turun dari kursinya, menyalak dengan galak, sehingga Budha tidak bisa mendekatinya. Budha kemudian berkata kepada anjing ini, ”Sifat tamakmu terhadap harta masih belum berubah, pada kehidupan yang lalu begitu, pada kehidupan sekarang masih tetap tidak bisa berubah.”

Setelah berkata demikian sang Budha membalikkan badan meninggalkan tempat itu. Anjing ini setelah mendengar perkataan sang Budha, dengan sedih menelungkupkan badannya di lantai. Tidak berapa lama kemudian, majikannya pulang. Anjing ini tidak seperti biasanya dengan gembira menyambut majikannya, tetap menelungkupkan badannya di lantai. Majikannya memanggilnya, dia tetap tidak berdiri dan mendekati majikannya, kelihatannya dia sangat sedih.

Akhirnya majikannya menanyakan kepada pembantunya, siapa yang menyakiti anjingnya sehingga anjingnya kelihatan sangat sedih? Pembantunya kemudian bercerita bahwa tadi sang Budha lewat. Anjingnya turun dari kursi malas menyalak dengan galak. Tetapi setelah Budha berkata beberapa kata, anjing ini berubah menjadi sedih, makanannya juga tidak disentuh.

Orang kaya ini sangat menyayangi anjingnya, setelah mendengar cerita bergegas pergi mencari Budha dan bertanya kepada-Nya, ”Engkau demikian berbelas kasih, kenapa ketika melewati rumah saya, memarahi anjing saya, hingga dia menjadi sangat sedih?” tanyanya. Sang Budha menjawab dengan bijaksana. ”Engkau sangat menyayangi anjingmu, karena anjingmu pada kehidupan yang lalu adalah ayah kandungmu. Kehidupan dahulu dia juga sangat suka kepadamu, hal ini adalah wajar,” katanya. 

Orang kaya ini setelah mendengar perkataan Budha, di hatinya timbul kecurigaan lalu dia bertanya kepada Budha lagi, ”Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa dia pada kehidupan yang lalu adalah benar-benar ayah saya?” Budha mengatakan kembali kepada orang kaya tersebut. ”Dia mempunyai kebiasaan, mempunyai keterikatan yang sangat besar kepada harta, ketika engkau kecil, karena takut kehilangan hartanya, dia menyembunyikan uang dan harta karunnya. Karena keterikatan yang parah terhadap harta karunnya, sehingga ketika dia meninggal masih khawatir kepada uang dan harta karun yang disimpan sehingga dia reinkarnasi menjadi anjing di rumahmu. Sejak lahir dia sudah sangat menyukaimu, biasanya setiap hari dia tidak pernah meninggalkan kursi malas yang biasanya diduduki ayahmu, jika engkau tidak percaya, pulanglah dan tanyakan kepadanya di mana dia dahulu menyimpan hartanya?”

Orang kaya ini setelah mendengar perkataan Budha, lalu pulang ke rumahnya. Sambil mengelus-elus anjingnya dia berjongkok bertanya kepada anjingnya. ”Jika benar engkau memang ayah saya, tolong bawa saya ke tempat dimana engkau menyembunyikan uang dan harta karunmu?” Akhirnya, anjing ini tidak berhentinya mengendus-endus di bawah kursi malas, dengan tangannya mengaruk-garuk lantai. Melihat gerakan anjingnya, setengah percaya setengah curiga, akhirnya dia menyuruh pembantunya mencangkul lantai di bawah kursi malas. Setelah dicangkul lebih kurang satu meter, mereka melihat sebuah kotak besar. Di dalam kotak ternyata berisi uang dan harta karun. Kotak uang dan harta karun itu, selama ini tersembunyi di bawah kursi malas!”

Setelah melihat kotak berisi uang dan harta karun ini, karena sedih orang kaya itu meneteskan airmata. ”Sungguh mengerikan! Jika di dalam hati tamak dengan harta sungguh mengerikan! Ayah saya demi menjaga hartanya, setelah meninggal, rela reinkarnasi menjadi seekor anjing demi menjaga hartanya. Sungguh kasihan, sungguh menyedihkan, dan juga sungguh menakutkan!” katanya.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

4 Ekor Kuda dan 4 Jenis Manusia

Alkisah, suatu hari Budha Sakyamuni duduk di pondok sebuah hutan bambu. Para pengikutnya yang bepergian keluar meminta sedekah satu per satu sudah kembali. Mereka mengambil air di pinggir danau, mencuci bersih kaki dan tangan mereka dari debu selama perjalanan. Mereka dengan tenang datang dan duduk bersila di hadapan Budha mendengar ceramah Budha. Budha duduk bersila dengan welas asih dan mulai bercerita kepada murid-muridnya.

Di dunia ini ada 4 jenis kuda, kuda yang pertama adalah kuda yang penurut, pemiliknya memasang pelana dan penutup mata. Sehari dia dapat berjalan ribuan kilometer, kecepatannya bagaikan meteor. Ketika pemiliknya mengangkat pecutnya (cambuk), melihat bayangan pecut dia sudah tahu kemauan pemiliknya. Kuda itu bergerak maju atau mundur, cepat atau lambat, segera memahami kemauan pemiliknya sehingga dengan cepat bisa mencapai tujuan. Dia adalah kuda penurut yang paling baik.

Jenis kuda yang kedua, ketika pemiliknya mengangkat pecutnya, dia melihat bayangan pecut, tetapi tidak segera bergerak. Ketika pecut tersebut memecut ke ekornya, dia baru tahu kemauan pemiliknya, lari dengan cepat, dapat dikatakan responnya cepat, merupakan seekor kuda kuat yang cukup baik.

Jenis kuda yang ketiga, tidak perduli pemiliknya berkali-kali melecutkan pecutnya, ketika melihat bayangan pecut, tidak mempunyai respon. Ketika perut bagaikan tetesan hujan memecut ke ekornya, dia masih tidak bergerak, responnya sangat lamban. Ketika pecutnya menghantam badannya dia baru sadar, bergerak sesuai dengan kemauan pemiliknya. Dia adalah seekor kuda dengan respon yang lamban.

Jenis kuda yang keempat, ketika pemiliknya membunyikan pecut, dia tidak peduli. Ketika pecut berkali-kali memecut ke badannya, dia masih tidak peduli. Ketika majikannya menjadi sangat marah dan menyepak kakinya. Akhirnya, kuda itu merasa kesakitan hingga menusuk tulang, sekujur tubuhnya berdarah, dia baru tersadar dari mimpinya, berlari dengan membabi buta. Dia adalah seekor kuda yang susah diatur, respon lamban, bandel dan kuda yang sangat pemarah.

Bercerita sampai di sana, sang Budha istirahat sejenak. Dengan pandangan mata lembut memandang ke murid-muridnya. Melihat para muridnya dengan serius mendengarnya, di dalam hatinya merasa puas. Lalu Budha melanjutkan ceritanya.

”Para muridku! Keempat jenis kuda ini bagaikan manusia yang mempunyai bakat dasar yang berbeda. Manusia yang pertama ketika mendengar perubahan di dunia ini, kehidupan yang akan dimusnahkan oleh petaka, dengan cepat sadar, dengan giat berusaha berbuat lebih baik yang dapat mengubah nasibnya. Seperti jenis kuda yang pertama, melihat bayangan pecut sudah dapat melesat ke depan dengan cepat, tidak menunggu pecutan maut merenggut nyawanya baru menyesal kemudian.”

“Jenis manusia yang kedua, melihat kehidupan di dunia ini yang beraneka ragam, nasib baik dan nasib malang yang menimpa, kelahiran dan kematian, dengan cepat dapat memecut diri sendiri dengan cepat berbuat lebih baik lagi. Seperti jenis kuda yang kedua, pecut baru mengena ke ekornya segera sadar dan melesat lari dengan cepat mencapai tujuan.”

“Jenis manusia yang ketiga, melihat sanak keluarga dan kerabat sebelum meninggal terjangkit penyakit, menanggung derita tubuh yang membusuk dan kesakitan sampai meninggal, baru sadar dan mulai menghargai kehidupan dan berbuat lebih baik. Seperti jenis kuda yang ketiga ketika merasakan pecutan yang sangat  menyakitkan, segenap tubuh baru tersadar, responnya sangat lamban.”

“Sedangkan jenis manusia keempat, jika diri sendiri yang terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan maut sedang menanti, pada saat ini baru menyesal. Kenapa dahulu tidak berusaha berbuat lebih baik, menyia-nyiakan kehidupan di dunia ini. Seperti jenis kuda yang keempat, ketika kesakitan bagaikan menusuk ke tulang, baru berlari dengan cepat. Tetapi semua itu sudah terlambat.”


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS