Welcome to My Blog.. Whoever are you.. You're so special.. Because everyone is no. 1.. So don't forget to smile today ^__^ Jiayou.. ^^V
RSS
Showing posts with label Grandparents. Show all posts
Showing posts with label Grandparents. Show all posts

23.8.10

Orangtua yang Kesepian

Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.

Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.

Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya di mana kami bisa tinggal di rumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus. Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

Tibalah di mana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar.

Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya. Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya atau pun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak efisien, saya juga dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya.

Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung. Tapi apa yang saya dapatkan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalau pun mereka ada di rumah tak pernah sekali pun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan. Lalu saya tinggal di rumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita di dalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.

Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya di manakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal di sana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya di sini tapi tidak sekali pun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri. Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung di sini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat-sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.

Sejak itu teman saya selalu menyempatkan diri untuk datang ke sana dan berbicara dengan sang opa. Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.

Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita. Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian?

When is the last time you chat to your parent? THEY NEED YOU.!


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

20.8.10

Di Saat Daku Tua

Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu..
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku..

Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku..
Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu..
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya..

Di saat saya dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu..
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku..
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi..

Di saat saya membutuhkanmu untuk memandikanku, janganlah menyalahkanku..
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Di saat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern, janganlah menertawaiku..
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu..

Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku..
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan..

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita, berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya..
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia..

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih..
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan..

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku..
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur. Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu..


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

19.8.10

Catatan Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari China Airline. Selama beberapa tahun melakukan pekerjaan yang sama, saya hampir tidak memiliki pengalaman menarik. Setiap hari saya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya mengalami kejadian yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan dan hidup. Hari itu, jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking. Penumpang sangat penuh.

Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, tampak dari pakaiannya yang terlihat kuno. Ia merangkul sebuah karung tua. Saat itu, saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang, berpikir betapa majunya perekonomian, hingga seorang dari desa pun mampu membeli tiket pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Saat melewati baris ke-20, saya melihat kembali kakek tua tersebut. Dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua. Bagaikan patung. Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan. Menolak. Lalu saat kami hendak membantunya meletakan karung tua di atas bagasi tempat duduk, dia juga menolak. Kami pun membiarkannya duduk dengan tenang.

Menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya. Tawaran kami yang membagikan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari bertanya kepadanya apakah dia sakit. Dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet, tetapi khawatir apakah di pesawat seseorang boleh bergerak sembarangan, karena ia takut merusak barang di dalam pesawat.

Kepala pramugari menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya, kemudian meminta seorang pramugara mengantar dia ke toilet.

Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Tanpa menanyakan kembali, kami meletakan segelas minuman teh di mejanya. Ternyata gerakan kami itu mengejutkannya. Terkejut dia mengatakan, "Tidak usah, tidak usah." Kami menjawab, "Kakek terlihat haus. Minumlah." Ia pun lalu mengambil minumannya dan merogoh segenggam uang logam dari sakunya.

Kami lalu menjelaskan bahwa minuman itu gratis, dia tidak percaya. Karena menurut penuturannya, ia berkali-kali diusir oleh penjual makanan dan minuman di sekitar bandara karena dikira ingin mengemis, padahal ia mau membeli minuman.

Kakek tua itu memang tampak mengenaskan, dengan baju lusuh dan karung bawaannya, sampai tampak seperti pengemis. Ia tampak kumal karena demi menghemat biaya, dia berjalan kaki dari desa sampai mendekati bandara.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota, tetapi mereka yang tidak biasa tinggal di kota akhirnya memilih kembali ke desa.

Kali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Sebenarnya, anak sulungnya berniat menemaninya ke Peking dengan naik pesawat, tetapi ditolak, karena menurut kakek tua itu, biayanya terlalu boros. Ia memilih pergi sendiri. Namun si sulung bersikeras membelikannya tiket pesawat.

Dia membawa sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya. Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia diminta menitipkan karung tersebut di bagasi, tetapi dia bersikeras membawa sendiri, karena khawatir ubi kering itu hancur. Anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Kami lalu membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk. Setelah berpikir cukup lama, ia pun setuju. Dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Selama penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus. Tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar. Saat pesawat hendak mendarat, dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? Lalu meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dan ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget.

Kami yang setiap hari melihat makanan semacam itu, merasa itu jenis makanan biasa, namun begitu istimewa di matanya. Menahan lapar, disisihkan makanan tersebut demi anaknya. Dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa, yang belum kami bagikan kepada penumpang, dan memberikan semuanya kepada kakek tua itu. Tetapi di luar dugaan, dia menolak pemberian kami. Dia hanya menghendaki bagiannya sendiri yang belum dimakan, tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu. Ini sebuah pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia masih bertahan. Ternyata, dia sengaja menunggu kami. Sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai. Di desa ia terbiasa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Dia juga berterima kasih karena kami melayaninya dengan baik, tidak memandang hina.

Selama lima tahun bekerja sebagai pramugari, beragam jenis penumpang sudah saya jumpai. Dari yang banyak tingkah, cerewet, sombong, dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami karena pelayanan yang kami berikan.

Kami hanya menjalankan tugas rutin, tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan seperti biasanya. Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah mengucapkan terima kasih. Yang paling membuat saya terharu adalah rasa sayangnya kepada anak, hingga ia rela membawa karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta. Ia juga berteguh hati tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Hal itu menyadarkan betapa kita tidak boleh memandang orang dari penampilan luar, kita harus tetap menghargai setiap orang, dan mensyukuri apa yang kita dapat.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Kasih Seorang Pramugari

Seorang pramugari selain mengenakan pakaian cantik seperti yang diketahui banyak orang, tentu saja adakalanya saya menghadapi saat-saat sulit. Pramugari harus kerja lembur, di dalam pesawat harus mengantar makanan pada ratusan orang, menjual barang duty free, melayani tamu, sibuk sekali sampai tidak bisa tersenyum. Dalam keadaan demikian tetap harus mengingatkan diri bahwa pekerjaanku adalah pelayanan, harus melayani banyak orang. Walaupun bagaimana memberitahu diri kadang-kadang ada saat dimana saya kehabisan tenaga, tak bisa bersabar dan tersenyum.

Sampai pada suatu hari teman baik saya bercerita tentang bagaimana dia melayani seorang kakek tua yang pikun, saya baru bisa mengubah sikap kerja saya. Ini adalah sebuah penerbangan dari Taipei ke New York. Pada saat pesawat terbang take off tak berapa lama, ada seorang kakek yang tidak bisa mengontrol untuk buang air besar. Dan akhirnya mengeluarkannya di tempat. Keluarga yang melihat hanya merasa jijik dan memaksa kakek ini untuk membersihkan diri di toilet sendirian. Orang tua ini tampak ragu sejenak, lalu kemudian seorang diri berjalan menuju toilet yang berada di belakang.

Pada saat kakek itu keluar dari toilet, walau bagaimana pun ia mengingat, ia tetap tidak mampu mengingat tempat duduknya sendiri. Kakek yang berumur 80-an ini menjadi cemas, takut, dan menangis seorang diri di teras toilet. Seorang pramugari datang membantu kakek ini, bau yang teramat sangat memenuhi badan kakek. Ternyata kakek ini tidak mengetahui dengan jelas letak tissue di dalam toilet tersebut sehingga ia membersihkannya dengan menggunakan bajunya. Toilet yang digunakannya tadi jadi kotor dan berantakan sekali.

Setelah mengantarkan kakek kembali ke tempat duduknya. Para penumpang di sekitarnya mulai mengeluh bau busuk yang berasal dari badannya. Pramugari menanyakan kepada saudaranya apakah mereka masih memiliki baju pengganti yang bisa digunakan oleh kakek ini. Saudaranya mengatakan, semua pakaian ada di bagasi pesawat, jadi kakek ini tidak memiliki baju pengganti. Dan saudaranya berkata, "Sekarang kan penerbangan ini tidak terisi full, saya melihat ada beberapa baris bagian belakang yang masih kosong, bawa saja kakek ini untuk duduk di belakang." Pramugari ini hanya bisa mengikuti keinginan dari saudaranya dan membawa kakek ini ke barisan belakang.

Kemudian mengunci toilet yang telah digunakan oleh kakek ini agar penumpang lain tidak salah masuk toilet. Akhirnya kakek ini duduk di bangku belakang seorang diri, menundukan kepala dan tak henti-hentinya menghapus air matanya yang terus mengalir.

Siapa sangka satu jam kemudian, kakek ini sudah berganti pakaian, dengan badan yang bersih dan tersenyum riang kembali ke tempat duduknya semula. Di depan mejanya tersaji seporsi makanan baru yang masih hangat. Semua orang saling bertanya siapa gerangan yang membantunya?           

Ternyata teman baik saya ini yang mengorbankan waktu makan malamnya. Dia menggunakan tissue dan lap basah pelan-pelan membersihkan badan kakek ini sampai bersih dan meminjam baju baru dari co-pilot untuk mengganti baju kakek ini. Terlebih lagi, pramugari ini membersihkan toilet yang telah digunakan oleh kakek ini hingga bersih dan menyemprotkan parfumnya sendiri ke dalam toilet tersebut.

Rekan kerjanya mengatakan dia bodoh, harus begitu susah payah membantu orang lain, bukankah sampai akhirnya tidak akan ada orang yang mengenang dan berterimah kasih. Sudah lelah, namun tidak mendatangkan keuntungan apa pun. Dia dengan tenang dan tegas menjawab, "Jam penerbangan masih belasan jam, kalau saya menjadi orang tua tersebut, saya pastilah sangat sedih, siapa yang berharap kalau awal dari perjalanan ini bisa jadi begini. Lagi pula tiga puluhan orang harus menggunakan satu toilet, kurang satu toilet tentu sangat merepotkan. Saya bukan hanya membantu orang tua itu tapi juga membantu penumpang yang lain."

Setelah mendengar cerita ini saya sangat menyesali sikap saya. Teman baikku pernah menyampaikan kepada saya bahwa pekerjaan yang paling membahagiakan adalah pekerjaan yang mengantarkan orang lain dari satu tempat ke tempat lain dengan selamat. Sejak mendengar pengalaman indah dari teman baik ini, saya baru menyadari bahwa pelayanan sungguh merupakan sebuah berkah yang harus dihargai. Cara terbaik menghargai berkah adalah dengan membagikan berkah ini kepada orang lain. Pengalaman teman baikku ini telah mengubah sikapku dalam bertugas.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nenek dan Minyak Goreng

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk di sebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.

Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm... dia tampak tersenyum pada saya. Saya pun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.

Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu akan dipakai untuk menggoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya.

Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itu pun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.

Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu. Tuhan memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.

Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.

Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya.

Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.

Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan untuk saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya.

Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek.


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS